Di Balik alasan "cuma teman"
Di Balik Alasan "Cuma Teman" Setiap pagi, Arga berangkat bekerja seperti biasa. Sebelum keluar rumah, ia mencium kening istrinya, Sinta, lalu mengusap kepala anak semata wayang mereka yang masih tertidur. Tak lupa ia berkata, "Doakan ayah, ya." Kalimat yang sama. Senyum yang sama. Kebiasaan yang sama. Tidak ada yang berubah... setidaknya begitulah yang terlihat. Semuanya bermula ketika Arga berkenalan dengan seorang wanita melalui media sosial. Awalnya hanya saling membalas cerita, lalu berlanjut menjadi percakapan yang semakin sering. Mereka membahas pekerjaan, kehidupan, hingga hal-hal pribadi yang seharusnya menjadi ruang antara suami dan istri. Saat wanita itu mulai memanggilnya dengan sebutan yang lebih akrab, Arga tidak menolak. Ia justru menikmati perhatian yang datang tanpa tuntutan. Ia mulai mencari alasan untuk membuka ponsel setiap beberapa menit. Pesan dari wanita itu selalu berhasil membuatnya tersenyum, sementara di rumah ia mulai lebih banyak...