Di Antara dua Cinta
"Di Antara Dua Cinta" Mentari sore mulai tenggelam di balik cakrawala, menyelimuti kota dengan semburat jingga yang memudar. Di sebuah kafe kecil di sudut jalan, Hana duduk sambil menatap secangkir kopi yang sudah dingin di depannya. Tangannya gemetar, memegang ponsel yang masih menampilkan pesan terakhir dari Arman: "Aku minta maaf, kita harus berhenti." Hana tak pernah membayangkan akan sampai pada titik ini. Arman, laki-laki yang selama ini mengisi hari-harinya dengan cinta dan perhatian, kini menjadi sumber kesedihan yang mendalam. Pertemuan mereka beberapa bulan lalu terasa seperti takdir—begitu indah dan penuh harapan. Namun, di balik semua itu, ada kenyataan pahit yang terus menghantui hubungan mereka. Arman sudah menikah. Ketika mereka pertama kali bertemu di sebuah seminar bisnis, Hana tidak tahu bahwa Arman memiliki keluarga. Ia adalah pria yang dewasa, penuh perhatian, dan membuatnya merasa istimewa. Percakapan mereka selalu mendalam, mengalir tanpa ham...