Tamparan yang tidak meninggalkan luka

 Tamparan yang Tidak Meninggalkan Luka

Oleh: Bunda Ria

Ada satu tamparan yang tidak membuat pipi memerah. Tidak meninggalkan bekas di kulit, tetapi mampu mengguncang hati yang paling dalam. Tamparan itu adalah saat seseorang berani bercermin pada dirinya sendiri.

Sering kali kita mengeluh hidup terasa berat. Rezeki terasa sempit, hati dipenuhi kegelisahan, rumah tangga penuh ujian, pekerjaan melelahkan, dan doa-doa seolah belum menemukan jawaban. Kita bertanya kepada Allah mengapa hidup terasa begitu sulit.

Namun pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri, sudahkah kita memenuhi panggilan-Nya sebelum meminta agar Dia memenuhi semua keinginan kita?

Kita ingin hidup bahagia, tetapi shalat sering menjadi urusan terakhir. Kita ingin doa cepat dikabulkan, tetapi ketika azan berkumandang, justru kesibukan dunia yang lebih kita dahulukan. Permintaan kita tidak pernah habis, tetapi sujud kita begitu singkat. Bibir begitu pandai meminta, sementara kaki terasa berat melangkah menuju sajadah.

Bukan karena Allah tidak mendengar doa kita. Bisa jadi, kitalah yang terlalu jarang hadir memenuhi panggilan-Nya.

Allah telah memberikan begitu banyak nikmat yang sering luput kita hitung. Udara yang kita hirup tanpa membeli, tubuh yang masih mampu bergerak, keluarga yang masih bisa dipeluk, rezeki yang masih mengalir, bahkan kesempatan untuk bertaubat yang masih terbuka setiap hari. Sayangnya, rasa syukur sering kalah oleh daftar keinginan yang terus bertambah.

Ironisnya, ketika mendapat nikmat kita lupa bersujud. Namun saat diuji, kita baru mengangkat kedua tangan memohon pertolongan.

Padahal shalat bukan sekadar kewajiban. Shalat adalah tempat pulang bagi hati yang lelah. Di sanalah segala beban diletakkan, air mata boleh jatuh tanpa dihakimi, dan jiwa menemukan ketenangan yang tidak mampu diberikan oleh dunia.

Mungkin selama ini bukan masalah hidup yang terlalu besar. Bisa jadi, hubungan kita dengan Allah yang mulai renggang. Bukan karena doa kita tidak didengar, tetapi karena kita sendiri terlalu sering menunda panggilan-Nya.

Hari ini, mari berhenti menyalahkan keadaan. Mari menampar diri sendiri, bukan dengan tangan, melainkan dengan kesadaran. Memperbaiki shalat, memperpanjang sujud, memperbanyak syukur, dan menghadirkan hati di hadapan Allah.

Sebab kebahagiaan bukan dimulai ketika semua masalah selesai. Kebahagiaan dimulai ketika hati kembali dekat dengan Rabb yang tidak pernah meninggalkan hamba-Nya.

Semoga setiap langkah menuju sajadah menjadi awal berubahnya hidup kita. Karena sesungguhnya, ketika hubungan dengan Allah diperbaiki, Allah akan membimbing jalan-jalan kehidupan yang selama ini terasa buntu.

Bunda Ria :::


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bel Istirahat: Musik Favorit Anak Sekolah

Ayah Terlibat, Anak Lebih Hebat