Di Balik alasan "cuma teman"

 


Di Balik Alasan "Cuma Teman"

Setiap pagi, Arga berangkat bekerja seperti biasa.

Sebelum keluar rumah, ia mencium kening istrinya, Sinta, lalu mengusap kepala anak semata wayang mereka yang masih tertidur. Tak lupa ia berkata, "Doakan ayah, ya."

Kalimat yang sama. Senyum yang sama. Kebiasaan yang sama.

Tidak ada yang berubah... setidaknya begitulah yang terlihat.

Semuanya bermula ketika Arga berkenalan dengan seorang wanita melalui media sosial. Awalnya hanya saling membalas cerita, lalu berlanjut menjadi percakapan yang semakin sering. Mereka membahas pekerjaan, kehidupan, hingga hal-hal pribadi yang seharusnya menjadi ruang antara suami dan istri.

Saat wanita itu mulai memanggilnya dengan sebutan yang lebih akrab, Arga tidak menolak. Ia justru menikmati perhatian yang datang tanpa tuntutan.

Ia mulai mencari alasan untuk membuka ponsel setiap beberapa menit. Pesan dari wanita itu selalu berhasil membuatnya tersenyum, sementara di rumah ia mulai lebih banyak diam.

Pertemuan pertama terjadi di sebuah kafe.

Arga mengatakan kepada istrinya bahwa ada rapat mendadak. Padahal, ia duduk berhadapan dengan wanita yang selama ini hanya ada di balik layar.

Mereka tertawa, berbincang, lalu berjanji akan bertemu lagi.

Bukan karena cinta.

Mereka sama-sama tahu hubungan itu tidak memiliki masa depan. Tidak ada rencana untuk hidup bersama. Yang mereka cari hanyalah kesenangan sesaat dan pelarian dari batas yang seharusnya mereka jaga.

Pertemuan demi pertemuan pun terjadi.

Arga semakin lihai menyusun alasan. Kadang lembur, kadang bertemu klien, kadang menemui teman lama.

Sementara itu, Sinta tidak pernah berhenti percaya.

Ia tetap menyiapkan makan malam meski sering dingin menunggu suaminya pulang. Ia tetap menyetrika pakaian kerja dengan rapi. Bahkan ketika rasa curiga sesekali muncul, ia memilih menepisnya karena yakin rumah tangga dibangun dengan kepercayaan.

Yang tidak ia tahu, kepercayaan itu sedang terkikis sedikit demi sedikit.

Suatu malam, Arga pulang lebih larut dari biasanya.

Anaknya yang tertidur di sofa masih menggenggam gambar sederhana bertuliskan, "Ayah, cepat pulang. Aku mau makan bareng."

Arga memandang gambar itu cukup lama.

Untuk pertama kalinya, ia merasa sesak.

Bukan karena hubungan terlarangnya mulai diketahui.

Melainkan karena ia sadar, setiap kebohongan yang ia buat bukan hanya mengkhianati istrinya, tetapi juga mencuri waktu yang seharusnya menjadi milik keluarganya.

Nafsu selalu menjanjikan kenikmatan yang cepat.

Namun setelah semuanya berlalu, yang sering tertinggal hanyalah rasa bersalah, kepercayaan yang rusak, dan penyesalan yang datang ketika semuanya sudah terlambat.

Sebab perselingkuhan tidak pernah benar-benar dimulai saat seseorang bertemu di sebuah kamar.

Ia dimulai ketika hati memberi izin untuk mencari kenyamanan di tempat yang salah, sementara di rumah masih ada seseorang yang setia menunggu tanpa pernah tahu bahwa dirinya sedang dikhianati.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bel Istirahat: Musik Favorit Anak Sekolah

Ayah Terlibat, Anak Lebih Hebat